Rabu, 19 Agustus 2009

Pelangi Pulau Dewata

Pelangi Pulau Dewata

Oleh : Ma’muri Santoso *


Matahari mulai beranjak terbenam di ufuk barat. Sekumpulan burung terbang untuk kembali ke sarangnya. Terdengar sayup sayup suara sekelompok belalang saling bersautan semakin menambah tanda tanda senja kian sempurna.
Tidak biasanya ia pulang sampai larut sore. Rasa cemas dan khawatir pun menyelimuti perasaan gadis kelas IX SMP N 3 Denpasar ini. Sebenarnya, sekolahnya berada di tengah kota. Ya, pulau Dewata. Pulau yang selalu dikunjungi banyak turis manca negara untuk menikmati keindahan panorama pulau Bali.
Rumah gadis belia ini ternyata lumayan jauh untuk ukuran jarak yang mesti ditempuh oleh siswi seusia SMP. Baleagung, desa yang berdekatan dengan Sanur dengan jarak sekitar 40 KM dari kota Denpasar. Tempat di mana Widya tinggal bersama neneknya. Kedua orang tuanya telah lama meninggal ketika Widya duduk di bangku SD kelas lima. Semenjak saat itu, ia hanya tinggal bersama neneknya. Perempuan sebatangkara yang selama ini berjualan keliling untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari hari Widya.
Motivasinya begitu membara agar kelak cucu semata wayangnya bisa menjadi seorang dokter, satu profesi yang sampai sekarang masih dianggap elit di wilayah Baleagung. Namun, sebenarnya bukan alasan itu yang mendorong perempuan berusia 70 tahun itu tidak kenal lelah mencari biaya untuk cucunya. Melainkan, si nenek ingin agar cucunya kelak bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat bagi kemanusiaan. Hal itulah yang mendorong Widya begitu gigih, tidak pernah mengeluh dengan jarak yang mesti ia tempuh setiap hari, walaupun hanya dengan menaiki sepeda peninggalan orang tuanya dulu.
Bagi kebanyakan orang, semangat Widya nampaknya tidak sebanding dengan nilai kodratinya sebagai kaum Hawa. Ia sangat ulet, tekun serta pantang menyerah. Satu prinsip yang cukup sulit ditemui di zaman sekarang ini.

§§§

Hari itu nampaknya kurang begitu bersahabat dengan Widya. Biasanya ia sampai rumah pukul 04.00 sore. Namun karena rantai sepedanya yang putus, ia mesti berada di tengah perjalanan di saat surya mulai terbenam istirahat guna datang kembali esok hari. Untunglah, masih ada sisa uang jajan hari itu, sehingga ia bisa memperbaiki sepeda di bengkel di mana Widya lewat setiap harinya. Namun jaraknya masih dua kilometer dari tempat di mana ia tidak menjumpai Dewi Fortuna sore itu.

“ Tapi, tak apalah, yang penting saya bisa pulang bertemu nenek hari ini “.

Begitulah pikiran yang terbesit dalam benaknya.
Sinar mentari mulai pamit undur diri. Gadis berseragam putih biru ini terus berjalan dengan menuntun sepedanya yang rusak. Kondisi jalan yang semakin gelap memang tidak membuatnya takut, melainkan ia begitu cemas dengan neneknya di rumah yang pasti kebingungan kalau cucunya belum pulang. Ia pun bergegas agar cepat sampai di bengkel di mana ia mesti memperbaiki sepedanya. Usahanya ternyata membuahkan hasil. I Made Mangun, begitulah warga sekitar memanggil Pak tua pemilik bengkel, ternyata masih berada di situ. Dengan senang hati ia pun menolong Widya.
Berapa Ki ?. Tanya Widya menanyakan ongkos perbaikan sepedanya. Ndak usah Nak “, yang terpenting Ki Sanak sekarang langsung pulang. Hari sudah semakin larut. Orang tuamua pasti mencarimu. Jawab Pak tua dengan tulus dan simpati. Ia tidak mau dibayar. Terima kasih Pak, balas Widya. Ia pun segera melanjutkan perjalanan untuk pulang.

§§§
Suara adzan maghrib bergema dengan sayup sayup dari kampung sebelah. Satu pemandangan yang cukup langka ditemukan di masyarakat yang mayoritas berpenduduk agama Hindu. Namun lain dengan Widya. Keluarganya menjadi minoritas muslim di Pulau Dewata itu. Neneknya seorang muslimah yang taat. Ia tidak pernah meninggalkan bangun malam untuk bertahajud dan mendoakan cucu satu satunya agar kelak bisa memberikan sumbangnsih bagi sesamanya. Tidak jarang ia menangis seraya bermunajat di kala sang penunjuk waktu beranjak pukul 02.00 malam. Itulah sekelumit gambaran ketulusan nenek Widya.
Satu kilo lagi Widya sampai di rumahnya. Ia tampaknya tidak menghiraukan keringat yang bercucuran di badannya untuk sekedar bertemu dengan nenek kesayangannya. Akhirnya, siswi yang selalu peringkat pertama ini pun sampai di rumahnya. Tidak begitu besar memang, namun tempat itu kelihatan begitu elok, dengan perabotan sederhana yang tersusun rapi. Nenek, nek , nenek. Panggil Widya ingin segera mencium tangan neneknya. Satu kebiasaan yang ia lakukan bersama orang tuanya dulu. Tidak ada jawaban sama sekali. Ia pun segera bergegas ke kamar di mana ia dan neneknya selalu sholat berjamah. Ia lihat neneknya sedang sujud sholat maghrib. Widya pun segera bergegas ambil air wudhu oleh karena waktu maghrib tidak lama lagi akan habis. Kali ini ia memilih sholat di kamarnya, lantaran nenek sudah sholat sendirian. Sholat Widya pun selesai. Ia segera menghampiri si nenek. Didapatinya si nenek masih dalam kondisi sujud. Tidak biasanya Widya menjumpai neneknya sujud lama hingga waktu isya’ hampir tiba. Ada apa dengan nenek. Begitulah rasa penasaran yang ada di benak Widya.
Ia pun lantas mencoba memanggil neneknya berulang ulang, walaupun ia tahu kalau si nenek masih dalam kondisi sholat. Tidak ada jawaban sama sekali dari nenek. Widya pun menghampirinya dengan memegang bahu si nenek. Responpun tidak ada sama sekali dari si nenek. Widya begitu kaget ketiga didapatinya Si Nenek sudah tidak lagi bisa disapa. Tidak ada lagi hembusan nafas dan tangan neneknya tampak terasa dingin. Dengan spontan Widya pun berteriak, Ya Allah !. Nenek , Ada apa dengan Engkau nek. Ayo bicara Nek. Ini Widya, cucumu. Nenek, jangan tinggalkan Widya. Widya harus tinggal dengan siapa Nek ?. Teriak Widya dengan air mata bercucuran membasahi mukena neneknya yang sudah pulang ke rahmatullah itu. Suara keras Widya pun akhirnya terdengar sampai ke tetangga. Tidak lama setelah itu para tetangganya segera berdatangan.
Mereka segera menghampiri Widya. Inna lillahi winna ilaihi raji’un. Kalimat inilah yang keluar dari dari para tetangganya yang baru saja berdatangan itu. Tampak dua orang ibu tak kuasa menahan air mata begitu iba melihat Widya yang masih tampak belum menerima kepergian neneknya itu. Seorang ibu memeluk Widya serasa berkata : Sudahlah Wid, nenekmu sudah berada di surga sekarang. Widya nanti tinggal bersama ibu saja. Tidak henti hentinya ibu itu mencoba menabahkan hati Widya.
Sementara bapak bapak langsung mengurusi jenazah nenek itu. Malam terasa ikut berduka atas kepergian nenek Widya. Angin berhembus dengan tenang. Suasana malam itu terasa begitu sunyi.
Rumah Widya semakin banyak kedatangan orang malam itu. Rasa empatipun terus mengalir dari warga desa Baleagung lantaran selama ini keluarga Widya terkenal begitu baik di mata para tetangganya. Keesokan harinya jenazah nenek Widya dimakamkan. Wajah Widya masih tampak begitu sedih oleh karena nenek satu satunya telah pergi untuk selama lamanya.
Setelah nenek tiada Widya akhirya memutuskan untuk tinggal bersama pamannya. Satu satunya keluarga yang masih ada. Ia tinggal di Surabaya. Widya melalui hidupnya dengan selalu berdoa untuk orang tuanya serta nenek tercintanya.
§§§
Kini setelah tujuh tahun berlaalu Petuah dan nasehat si nenek tidak bisa lepas dari kehidupan Widya. Si nenek selalu mengajarkan kesederhanaan, cinta kepada sesama, ulet, gigih dan pantang menyerah. Prinsip itulah yang selama ini dipegang Widya sampai duduk di semester delapan fakultas kedokteran UNAIR. Nampaknya doa dan keinginan neneknya terkabul. Kecerdasannya mengantarkan Widya selalu memperoleh beasiswa setiap semesternya. Kini Widya hampir mejadi seorang dokter. Ia akan purna study bulan depan. Satu hal yang selalu dirindukan oleh Widya adalah seandainya kedua orang tua serta nenek tercintanya bisa berada disamping Widya dan menyaksikan cucunya tersenyum mengenakan toga, alangkah bahagianya hati ini. Itulah keinginan Widya yang selalu terbesit dalam hatinya, walaupun ia menyadari kenyataan itu jelas tidak mungkin. Ia kini ingin melaksanakan janji kepada neneknya dulu kalau kelak menjadi seorang dokter maka akan ia abdikan hidupnya untuk kemanusiaan sebagai sarana ibadah kepada Nya.
Itulah pelangi sejati dari pulau dewata. Kehidupan seringkali seperti pelangi. Warna warni yang penuh variasi antara senang, sedih, canda dan tawa, bahagia serta duka selalu datang silih berganti. Tapi itulah variasi hidup. Bukankah keindahan pelangi akan sirna kalau hanya terdiri dari satu warna ?.

§§§

Penulis adalah cerpenis, tinggal di Kebumen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar