KOMITMEN PENGHARGAAN KECERDASAN MAJEMUK ?
Oleh : Ma’muri Santoso
Mulai tanggal 27 – 29 Oktober 2008 digelar Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) Pelajar MTs Ke IX Se-Jateng di Kabupaten Kebumen. Salah satu ajang untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas pelajar MTs ini digelar setiap tiga tahun sekali. Tujuan dari penyelenggaraan acara ini diharapkan mampu menghasilkan siswa siswi (pelajar) yang kreatif, dinamis dan inovatif dalam mengukir berprestasi. Pertanyaannya apakah dalam dunia pendidikan kita terlebih lagi dalam skup yang lebih kecil yakni sekolah sudah benar benar menciptakan iklim yang mendukung tujuan tersebut ?
Sebagai even kompetisi kemampuan berolahraga dan mengapresiasikan seni, setidaknya acara seperti ini mampu mengukuhkan kembali komitmen semua pihak untuk mengakui dan memberikan penghargaan atas kecerdasan majemuk ( multiple intelligence) yang dimiliki oleh peserta didik. Bakat dan talenta yang berbeda beda mesti diakui sebagai fitrah yang harus dikembangkan. Mulai dari pemerintah, civitas akademik, pihak sekolah, guru maupun orang tua mesti menyadari bahwa setiap talenta itu lahir bukan karena proses pembentukan berdasarkan tekanan dan paksaan, melainkan karena keperyaan kepada peserta didik bahwa mereka mampu menggali dan mengembangkan potensinya dengan baik apabila kita fasilitasi dengan baik pula.
Hal tersebut dirasa penting karena walaupun dalam dunia pendidikan selalu didengungkan pengakuan dan penghargaan terhadap kecerdasan majemuk, namun dalam kenyataannya, masih banyak sekolah yang mengabaikan upaya untuk memberikan ruang yang lebar pada pembinaan life skill (kecakapan hidup). Akibatnya siswa siswi mudah merasa jenuh karena potensinya kurang bias tersalurkan dengan baik sehingga proses kegiatan belajar tidak dapat berjalan efektif. Kalau demikian maka cita cita lembaga pendidikan (sekolah) untuk menjadi tempat yang menyenangkan untuk proses kegiatan belajar mengajar masih jauh dari harapan.
Kecerdasan majemuk sebagaimana diungkapkan oleh Howard Gadner meliputi : Pertama kecerdasan logis matematis yaitu kemampuan mengapresiasikan sistem angka dan konsep menurut logika, misalnya para ilmuwan bidang fisika dan matematika. Kedua linguistik yaitu kemampuan mengapresiasikan kata kata di dalam bentuk lisan maupun tulisan, misalnya kemampuan membuat puisi. Ketiga spasial yaitu kemampuan mengenali pola ruang secara akurat, menerjemahkannya secara tepat pula, misalnya insinyur dan arsitek. Keempat musical yaitu kemampuan memahami dan mengapresiasikan konsep konsep musik, misalnya musisi. Kelima kinestetik yaitu kemampuan untuk menggunakan tubuh dan gerak, misalnya penari dan atlet. Keenam naturalis yaitu kemampuan untuk mengenali, mengelompokkan serta menggambarkan berbagai macam keistimewaan yang ada di lingkungan, misalnya dokter hewan, ahli botani. Ketujuh intra personal yaitu kemampuan untuk memahami perasaan perasaan sendiri, refleksi, pengetahuan batin dan filosofinya, misalnya ahli sufi dan agamawan. Kedelapan interpersonal yaitu kemampuan untuk memahami orang lain baik pikiran maupun perasannya, misalnya psikiaterdan politisi.
Dengan memahami macam macam kecerdasan yang ada di atas sudah semestinya pengakuan terhadap bakat dan talenta siswa tidak diberikan setengah hati. Mereka mesti diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengapresiasikan bakat tersebut. Pemberian kesempatan yang setengah hati akan berakibat potensi yang ada pada diri anak tidak dapat berkembang secara optimal. Dalam psikologi anak, jika ia diberikan kepercayaan untuk mendayagunakan kemampuannya maka kemampuan itu akan tumbuh berkembang dengan tidak ada perasaan tertekan sedikitpun karena ia menjalaninya dengan perasaan gembira. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sehari hari di sekolah, misalnya jika anak diberikan kesempatan untuk membuat puisi atau bermain drama, maka di luar dugaan mereka dapat menampilkannya dengan begitu menarik dan luar biasa hasil karyanya. Dengan demikian maka peran guru dituntut untuk selalu konsisten sebagai mitra belajar (fasilitator) sebagaimana selama ini dikampanyekan.
Di tengah kondisi bangsa yang selalu dihadapkan pada persaingan global maka sudah semestinya para generasi bangsa dipersiapkan sedini mungkin agar benar benar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, tangguh dan trampil menyikapi perkembangan zaman. Sekolah sebagai salah satu kunci pokok pembinaan pendidikan disamping unsur keluarga dan masyarakat sudah semestinya melakukan pembenahan dan evaluasi apakah selama ini dapat berperan sebagai tempat yang benar benar mengesankan bagi anak atau tidak. Guru guru apakah selama ini sudah maksimal dalam memberikan bimbingan dan mitra bagi anak, bukannya memposisikan sebagai sumber kebenaran tunggal dalam pemberian matri pelajaran.
Dalam kran demokrasi yang kian terbuka lebar, posisi sekolah negeri dan swasta memiliki kesamaan baik dalam menerima hak maupun kewajiban mengikuti aturan pemerintah. Semua diberikan hak yang sama sehingga semuanya dapat menjalankan KBM dengan baik dan optimal. Tinggal pada akhirnya semua berpulang kepada masyarakat untuk memilihnya. Laksana seleksi alam, maka sekolah yang konsisten menjaga kualitas dengan memberikan apresiasi yang besar kepada anak untuk tumbuh dan berkembang termasuk memiliki komitmen untuk memberikan penghargaan terhadap setiap kelebihan yang dimiliki anak maka ia akan tetap eksis dan menjadi pilihan bagi konsumen pendidikan.
Penulis adalah Kepala MTs PSA Mamba’ul Hisan Mirit Kebumen
Rabu, 19 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar