Rabu, 19 Agustus 2009

PESAN DEMOKRASI DARI API TEGALREJO

PESAN DEMOKRASI DARI API TEGALREJO
Oleh : Ma’muri Santoso *



Malam Ahad, 25 Agustus 2007, puluhan ribu orang memadati API Tegalrejo Magelang. Pesantren yang didirikan oleh Al Maghfurlah Kyai Chudhory ini sedang menyelenggarakan acara Haflah Attasyakur Lil Ikhtitam yang ke 64. Berbicara dalam penyampaian uraian mauidzoh KH. Nurul Huda Jazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri.
Satu hal yang cukup menarik perhatian para pengunjung ialah pemaparan dari Dwi Tunggal Pengasuh API Tegalrejo, yakni KH. Abdurrohman Chudhory dan KH. Ahmad Muhammad yang jika dinilai sepintas terlihat berseberangan. Didaulat mewakili ahlul bait, Bapak Agus Ahmad Muhammad memberikan beberapa warning yang mesti menjadi perhatian bagi santri Tegalrejo. Sosok yang selama ini enggan dijuluki kyai ini mengungkapkan bahwa Tegalrejo akan tetap konsisten dengan kurikulum pembelajaran yang diwasiatkan oleh pendiri, yakni tetap mempertahankan sistem salaf. Sebagai konsekuensi dari konsep itu ialah bahwa untuk seterusnya API Tegalrejo tidak akan pernah mendirikan model sekolah formal sebagaimana diadopsi oleh pondok pesantren yang lain.
Gus Muh menekankan bahwa pondok pesantren salaf adalah barometer keislaman di tanah air. Institusi ini merupakan benteng pertahanan terakhir guna menjaga nilai dan ajaran islam dari pengaruh faham faham baru keagamaan yang akhir akhir ini cukup gencar di masyarakat. Model salaf adalah satu alternatif yang diambil oleh Muassis agar para alumni mampu berkiprah dalam ranah Tarbiyah Watta’lim serta Dakwah Islamiyah di masyarakat. Oleh karena itu Gus Muh juga melarang keras para santri untuk terlibat dalam berpolitik praktis. Tugas santri adalah belajar, sedangkan aktifitas berpolitik akan mengganggu dalam proses ta’allum.
Adik kandung KH. Abdurrohman Chudory ini memang dikenal memiliki kebiasaan yang aneh atau dalam istilah dunia pesantren disebut dengan kyai yang khariqu al ‘adah. Ia dikenal menyukai beberapa hasil budaya terlebih seperti wayang dan ketoprak. Alasan mengapa dalam event tahunan Tegalrejo selalu digelar panggung kesenian, karena media tersebut bisa dijadikan sarana dakwah untuk mengajak para pemeran wayang, ketoprak dan sejumlah peminat berat kesenian ini tertarik kepada ajaran islam. Termasuk juga orang islam yang selama ini belum menjalankan ajaran islam dengan baik agar dapat menjalankan sholat maupun ibadah yang lain. Pendekatan dalam berdakwah tidak selalu identik dengan mauidzoh, namun jalur budaya pun dapat ditempuh sebagaimana telah dicontohkan oleh salah satu wali songo yakni Sunan Kalijaga.
Putra kedua Kyai Chudory ini juga memberikan tamsil tentang corak pesantren salaf tegalrejo yang sampai kapanpun tidak akan pernah mengambil jalur formal seperti SD, SMP, SMA atau bahkan sampai Perguruan Tinggi. Bagi Gus Muh, pesantren salaf itu ibarat pohon duku yang buahnya lebat, sedangkan lembaga formal itu laksana tanaman parasit atau sering diistilahkan dengan kemaduan. Kesuburan pohon duku dapat terganggu lantaran pengaruh tanaman pengganggu. Walaupun di satu sisi kemaduan itu dapat bernilai positif, namun jika disendirikan dan fungsikan sebagai obat terhadap berbagai macam penyakit. Dengan demikian maka alternatifnya menjadi dua macam. Pertama, membiarkan pohon duku tanpa tanaman kemaduan. Ini artinya, lembaga salaf murni menjadi pilihan final bagi API Tegalrejo tanpa pernah berupaya untuk mengadopsi lembaga formal. Kedua, memisahkan tanaman kemaduan dalam wilayah tersendiri sehingga tetap saja memiliki asas manfaat sebagai obat. Hal ini artinya, lembaga formal khusus menangani ruang lingkupnya sendiri tanpa pernah mencampur adukkan dengan kurikulum pesantren. Dengan demikian maka masing masing institusi tetap saja memiliki peran tanpa harus membaurkan satu sama lain.
Sementara untuk sambutan kedua, kesempatan diberikan kepada kakak kandung Gus Muh yakni KH. Abdurrohman Chudory (Gus Dur) untuk memberikan sambutan atas nama pengasuh API Tegalrejo. Gus Dur menambahkan bahwa lembaga formal itu memiliki peran yang sangat penting, sama pentingnya seperti pesantren. Namun tetap saja dalam sekolah formal harus dialokasikan materi agama dan pembinaan moral walau tidak sedetail (rinci) di pesantren. Menurut putra pertama Kyai Chudory, islam itu begitu luas dan satu sama lain saling membutuhkan. Kalau umat islam semua dibentuk dengan model pesantren salaf dengan tidak ada satupun yang masuk di lembaga formal, terus siapa lagi yang akan memegang posisi strategis dalam mengemban amanah umat seperti dalam pemerintahan maupun instansi yang lain ?. Inilah yang mesti diperhatikan bagi semuanya. Demikian pemaparan Gus Dur.
Terkait dengan masalah politik, santri API Tegalrejo memang dilarang keras terlibat ketika masih di pondok, namun beliau mewajibkan para alumninya untuk berpolitik ketika sudah bermukim atau telah kembali lagi ke masyarakat. Partai politik adalah sarana untuk menyampaikan aspirasi guna membentuk tata pemerintahan yang dijiwai dengan nilai nilai keislaman dan kebangsaan. Oleh karena itu semua warga negara termasuk santri memiliki kewajiban untuk berpartisipasi mewujudkan tata pemerintahan yang adil, amanah dan transparan. Salah satu wadahnya adalah partai politik. Gus Dur juga menambahkan bahwa pengertian berpolitik tidak selalu identik dengan partai, melainkan segala upaya yang ditempuh guna menciptakan kemaslahatan umat adalah berpolitik. Jika pengertiaanyaa demikian maka proses ta’allum, penyampaian dakwah itu juga bermakna politik dalam arti yang lebih luas.
Tanggung jawab islam tidak hanya masalah pendidikan melainkan juga mencakup sesuatu yang berkenaan dengan tata siyasah yang mesti dijiwai dengan nilai nilai luhur. Sebagaimana maqolah Imam Al Ghozali : Assiyaasatu Juz un Min Ajzaais Syariah, bahwa politik itu merupakan bagian dari syariah. Dalam hidup berbangsa dan bernegara peran seperti itu memang tidak dapat dihindari sehingga dalam konteks masyarakat majemuk jiwa nasionalisme tetap saja dikedepankan dengan tetap menjaga teguh ajaran islam.
Jika disimak secara sepintas, memang agaknya prinsip yang dipegang oleh duet dwi tunggal pengasuh API Tegalrejo berbeda arah. Namun jika ditelusuri lebih dalam semuanya sama sama benar jika kita mampu menafsiri dan menempatkan pesan kedua tokoh ini dengan semestinya. Bagi Gus Muh, larangan santri API Tegalrejo bersekolah karena dikhawatirkan materi paling pokok yang mesti dipelajari para santri yakni ajaran islam para ulama salaf dapat terabaikan. Mereka cenderung mementingkan kurikulum sekolah formal. Sementara pesan pesan islam, baik yang berkenaan dengan tauhid, aqidah dan akhlak tidak mampu diserap secara utuh. Dengan demikian, maka dalam jangka waktu yang tidak lama barometer keislaman di tanah air akan pudar dan hal ini berakibat pada tamatnya ajaran islam para salaf al sholih.
Antara Gus Muh dan dan Gus Dur sesungguhnya memiliki titik persamaan prinsip, yakni ingin menjaga warisan luhur Mbah Kyai Chudory agar system salaf tetap dilestarikan. Sedangkan di sisi lain juga mempersilahkan pondok pesantren di luar Tegalrejo yang ingin mengadopsi lembaga formal asal saja tidak mengesampingkan materi materi keagamaan dan pembinaan akhlak.
Adapun untuk keterlibatan santri maupun alumni dalam berpolitik, maka pengertiannya menjadi : jika seorang kyai tidak mampu dalam berpolitik, sebaiknya kembali saja ke dunia pesanten dan tetap istiqomah mengantarkan para santri sekaligus mewariskan nilai nilai luhur islam dengan membentuk generasi yang sholih dan sholihah. Namun apabila memiliki kemampuan maka terjun dan urusilah politik itu dengan berlaku amanah, transparan, adil serta bertanggung jawab. Bagi yang memiliki kemampuan minim dalam berpolitik maka nilai perjuangan itu cukup disalurkan melalui partai yang dinilai dapat dipercaya.
Begitulah pelajaran berharga dan pesan penting tentang demokrasi dari API Tegalrejo. Perbedaan dapat bernilai rahmat apabila kita mampu menempatkan secara proporsional dan menyikapinya secara dewasa. Satu lagi warisan khazanah klasik telah memberikan pelajaran penting tentang menjaga nilai keislaman, memajukan ilmu ilmu pendukung dan bagaimana hidup dalam masyarakat yang komplek dengan tetap menjunjung tinggi jiwa nasionalisme.

* Penulis adalah Kepala MTs PSA Mambaul Hisan Sitibentar Mirit Kebumen

KOMITMEN PENGHARGAAN KECERDASAN MAJEMUK ?

KOMITMEN PENGHARGAAN KECERDASAN MAJEMUK ?
Oleh : Ma’muri Santoso
Mulai tanggal 27 – 29 Oktober 2008 digelar Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) Pelajar MTs Ke IX Se-Jateng di Kabupaten Kebumen. Salah satu ajang untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas pelajar MTs ini digelar setiap tiga tahun sekali. Tujuan dari penyelenggaraan acara ini diharapkan mampu menghasilkan siswa siswi (pelajar) yang kreatif, dinamis dan inovatif dalam mengukir berprestasi. Pertanyaannya apakah dalam dunia pendidikan kita terlebih lagi dalam skup yang lebih kecil yakni sekolah sudah benar benar menciptakan iklim yang mendukung tujuan tersebut ?
Sebagai even kompetisi kemampuan berolahraga dan mengapresiasikan seni, setidaknya acara seperti ini mampu mengukuhkan kembali komitmen semua pihak untuk mengakui dan memberikan penghargaan atas kecerdasan majemuk ( multiple intelligence) yang dimiliki oleh peserta didik. Bakat dan talenta yang berbeda beda mesti diakui sebagai fitrah yang harus dikembangkan. Mulai dari pemerintah, civitas akademik, pihak sekolah, guru maupun orang tua mesti menyadari bahwa setiap talenta itu lahir bukan karena proses pembentukan berdasarkan tekanan dan paksaan, melainkan karena keperyaan kepada peserta didik bahwa mereka mampu menggali dan mengembangkan potensinya dengan baik apabila kita fasilitasi dengan baik pula.
Hal tersebut dirasa penting karena walaupun dalam dunia pendidikan selalu didengungkan pengakuan dan penghargaan terhadap kecerdasan majemuk, namun dalam kenyataannya, masih banyak sekolah yang mengabaikan upaya untuk memberikan ruang yang lebar pada pembinaan life skill (kecakapan hidup). Akibatnya siswa siswi mudah merasa jenuh karena potensinya kurang bias tersalurkan dengan baik sehingga proses kegiatan belajar tidak dapat berjalan efektif. Kalau demikian maka cita cita lembaga pendidikan (sekolah) untuk menjadi tempat yang menyenangkan untuk proses kegiatan belajar mengajar masih jauh dari harapan.
Kecerdasan majemuk sebagaimana diungkapkan oleh Howard Gadner meliputi : Pertama kecerdasan logis matematis yaitu kemampuan mengapresiasikan sistem angka dan konsep menurut logika, misalnya para ilmuwan bidang fisika dan matematika. Kedua linguistik yaitu kemampuan mengapresiasikan kata kata di dalam bentuk lisan maupun tulisan, misalnya kemampuan membuat puisi. Ketiga spasial yaitu kemampuan mengenali pola ruang secara akurat, menerjemahkannya secara tepat pula, misalnya insinyur dan arsitek. Keempat musical yaitu kemampuan memahami dan mengapresiasikan konsep konsep musik, misalnya musisi. Kelima kinestetik yaitu kemampuan untuk menggunakan tubuh dan gerak, misalnya penari dan atlet. Keenam naturalis yaitu kemampuan untuk mengenali, mengelompokkan serta menggambarkan berbagai macam keistimewaan yang ada di lingkungan, misalnya dokter hewan, ahli botani. Ketujuh intra personal yaitu kemampuan untuk memahami perasaan perasaan sendiri, refleksi, pengetahuan batin dan filosofinya, misalnya ahli sufi dan agamawan. Kedelapan interpersonal yaitu kemampuan untuk memahami orang lain baik pikiran maupun perasannya, misalnya psikiaterdan politisi.
Dengan memahami macam macam kecerdasan yang ada di atas sudah semestinya pengakuan terhadap bakat dan talenta siswa tidak diberikan setengah hati. Mereka mesti diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengapresiasikan bakat tersebut. Pemberian kesempatan yang setengah hati akan berakibat potensi yang ada pada diri anak tidak dapat berkembang secara optimal. Dalam psikologi anak, jika ia diberikan kepercayaan untuk mendayagunakan kemampuannya maka kemampuan itu akan tumbuh berkembang dengan tidak ada perasaan tertekan sedikitpun karena ia menjalaninya dengan perasaan gembira. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sehari hari di sekolah, misalnya jika anak diberikan kesempatan untuk membuat puisi atau bermain drama, maka di luar dugaan mereka dapat menampilkannya dengan begitu menarik dan luar biasa hasil karyanya. Dengan demikian maka peran guru dituntut untuk selalu konsisten sebagai mitra belajar (fasilitator) sebagaimana selama ini dikampanyekan.
Di tengah kondisi bangsa yang selalu dihadapkan pada persaingan global maka sudah semestinya para generasi bangsa dipersiapkan sedini mungkin agar benar benar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, tangguh dan trampil menyikapi perkembangan zaman. Sekolah sebagai salah satu kunci pokok pembinaan pendidikan disamping unsur keluarga dan masyarakat sudah semestinya melakukan pembenahan dan evaluasi apakah selama ini dapat berperan sebagai tempat yang benar benar mengesankan bagi anak atau tidak. Guru guru apakah selama ini sudah maksimal dalam memberikan bimbingan dan mitra bagi anak, bukannya memposisikan sebagai sumber kebenaran tunggal dalam pemberian matri pelajaran.
Dalam kran demokrasi yang kian terbuka lebar, posisi sekolah negeri dan swasta memiliki kesamaan baik dalam menerima hak maupun kewajiban mengikuti aturan pemerintah. Semua diberikan hak yang sama sehingga semuanya dapat menjalankan KBM dengan baik dan optimal. Tinggal pada akhirnya semua berpulang kepada masyarakat untuk memilihnya. Laksana seleksi alam, maka sekolah yang konsisten menjaga kualitas dengan memberikan apresiasi yang besar kepada anak untuk tumbuh dan berkembang termasuk memiliki komitmen untuk memberikan penghargaan terhadap setiap kelebihan yang dimiliki anak maka ia akan tetap eksis dan menjadi pilihan bagi konsumen pendidikan.

Penulis adalah Kepala MTs PSA Mamba’ul Hisan Mirit Kebumen

Pelangi Pulau Dewata

Pelangi Pulau Dewata

Oleh : Ma’muri Santoso *


Matahari mulai beranjak terbenam di ufuk barat. Sekumpulan burung terbang untuk kembali ke sarangnya. Terdengar sayup sayup suara sekelompok belalang saling bersautan semakin menambah tanda tanda senja kian sempurna.
Tidak biasanya ia pulang sampai larut sore. Rasa cemas dan khawatir pun menyelimuti perasaan gadis kelas IX SMP N 3 Denpasar ini. Sebenarnya, sekolahnya berada di tengah kota. Ya, pulau Dewata. Pulau yang selalu dikunjungi banyak turis manca negara untuk menikmati keindahan panorama pulau Bali.
Rumah gadis belia ini ternyata lumayan jauh untuk ukuran jarak yang mesti ditempuh oleh siswi seusia SMP. Baleagung, desa yang berdekatan dengan Sanur dengan jarak sekitar 40 KM dari kota Denpasar. Tempat di mana Widya tinggal bersama neneknya. Kedua orang tuanya telah lama meninggal ketika Widya duduk di bangku SD kelas lima. Semenjak saat itu, ia hanya tinggal bersama neneknya. Perempuan sebatangkara yang selama ini berjualan keliling untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari hari Widya.
Motivasinya begitu membara agar kelak cucu semata wayangnya bisa menjadi seorang dokter, satu profesi yang sampai sekarang masih dianggap elit di wilayah Baleagung. Namun, sebenarnya bukan alasan itu yang mendorong perempuan berusia 70 tahun itu tidak kenal lelah mencari biaya untuk cucunya. Melainkan, si nenek ingin agar cucunya kelak bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat bagi kemanusiaan. Hal itulah yang mendorong Widya begitu gigih, tidak pernah mengeluh dengan jarak yang mesti ia tempuh setiap hari, walaupun hanya dengan menaiki sepeda peninggalan orang tuanya dulu.
Bagi kebanyakan orang, semangat Widya nampaknya tidak sebanding dengan nilai kodratinya sebagai kaum Hawa. Ia sangat ulet, tekun serta pantang menyerah. Satu prinsip yang cukup sulit ditemui di zaman sekarang ini.

§§§

Hari itu nampaknya kurang begitu bersahabat dengan Widya. Biasanya ia sampai rumah pukul 04.00 sore. Namun karena rantai sepedanya yang putus, ia mesti berada di tengah perjalanan di saat surya mulai terbenam istirahat guna datang kembali esok hari. Untunglah, masih ada sisa uang jajan hari itu, sehingga ia bisa memperbaiki sepeda di bengkel di mana Widya lewat setiap harinya. Namun jaraknya masih dua kilometer dari tempat di mana ia tidak menjumpai Dewi Fortuna sore itu.

“ Tapi, tak apalah, yang penting saya bisa pulang bertemu nenek hari ini “.

Begitulah pikiran yang terbesit dalam benaknya.
Sinar mentari mulai pamit undur diri. Gadis berseragam putih biru ini terus berjalan dengan menuntun sepedanya yang rusak. Kondisi jalan yang semakin gelap memang tidak membuatnya takut, melainkan ia begitu cemas dengan neneknya di rumah yang pasti kebingungan kalau cucunya belum pulang. Ia pun bergegas agar cepat sampai di bengkel di mana ia mesti memperbaiki sepedanya. Usahanya ternyata membuahkan hasil. I Made Mangun, begitulah warga sekitar memanggil Pak tua pemilik bengkel, ternyata masih berada di situ. Dengan senang hati ia pun menolong Widya.
Berapa Ki ?. Tanya Widya menanyakan ongkos perbaikan sepedanya. Ndak usah Nak “, yang terpenting Ki Sanak sekarang langsung pulang. Hari sudah semakin larut. Orang tuamua pasti mencarimu. Jawab Pak tua dengan tulus dan simpati. Ia tidak mau dibayar. Terima kasih Pak, balas Widya. Ia pun segera melanjutkan perjalanan untuk pulang.

§§§
Suara adzan maghrib bergema dengan sayup sayup dari kampung sebelah. Satu pemandangan yang cukup langka ditemukan di masyarakat yang mayoritas berpenduduk agama Hindu. Namun lain dengan Widya. Keluarganya menjadi minoritas muslim di Pulau Dewata itu. Neneknya seorang muslimah yang taat. Ia tidak pernah meninggalkan bangun malam untuk bertahajud dan mendoakan cucu satu satunya agar kelak bisa memberikan sumbangnsih bagi sesamanya. Tidak jarang ia menangis seraya bermunajat di kala sang penunjuk waktu beranjak pukul 02.00 malam. Itulah sekelumit gambaran ketulusan nenek Widya.
Satu kilo lagi Widya sampai di rumahnya. Ia tampaknya tidak menghiraukan keringat yang bercucuran di badannya untuk sekedar bertemu dengan nenek kesayangannya. Akhirnya, siswi yang selalu peringkat pertama ini pun sampai di rumahnya. Tidak begitu besar memang, namun tempat itu kelihatan begitu elok, dengan perabotan sederhana yang tersusun rapi. Nenek, nek , nenek. Panggil Widya ingin segera mencium tangan neneknya. Satu kebiasaan yang ia lakukan bersama orang tuanya dulu. Tidak ada jawaban sama sekali. Ia pun segera bergegas ke kamar di mana ia dan neneknya selalu sholat berjamah. Ia lihat neneknya sedang sujud sholat maghrib. Widya pun segera bergegas ambil air wudhu oleh karena waktu maghrib tidak lama lagi akan habis. Kali ini ia memilih sholat di kamarnya, lantaran nenek sudah sholat sendirian. Sholat Widya pun selesai. Ia segera menghampiri si nenek. Didapatinya si nenek masih dalam kondisi sujud. Tidak biasanya Widya menjumpai neneknya sujud lama hingga waktu isya’ hampir tiba. Ada apa dengan nenek. Begitulah rasa penasaran yang ada di benak Widya.
Ia pun lantas mencoba memanggil neneknya berulang ulang, walaupun ia tahu kalau si nenek masih dalam kondisi sholat. Tidak ada jawaban sama sekali dari nenek. Widya pun menghampirinya dengan memegang bahu si nenek. Responpun tidak ada sama sekali dari si nenek. Widya begitu kaget ketiga didapatinya Si Nenek sudah tidak lagi bisa disapa. Tidak ada lagi hembusan nafas dan tangan neneknya tampak terasa dingin. Dengan spontan Widya pun berteriak, Ya Allah !. Nenek , Ada apa dengan Engkau nek. Ayo bicara Nek. Ini Widya, cucumu. Nenek, jangan tinggalkan Widya. Widya harus tinggal dengan siapa Nek ?. Teriak Widya dengan air mata bercucuran membasahi mukena neneknya yang sudah pulang ke rahmatullah itu. Suara keras Widya pun akhirnya terdengar sampai ke tetangga. Tidak lama setelah itu para tetangganya segera berdatangan.
Mereka segera menghampiri Widya. Inna lillahi winna ilaihi raji’un. Kalimat inilah yang keluar dari dari para tetangganya yang baru saja berdatangan itu. Tampak dua orang ibu tak kuasa menahan air mata begitu iba melihat Widya yang masih tampak belum menerima kepergian neneknya itu. Seorang ibu memeluk Widya serasa berkata : Sudahlah Wid, nenekmu sudah berada di surga sekarang. Widya nanti tinggal bersama ibu saja. Tidak henti hentinya ibu itu mencoba menabahkan hati Widya.
Sementara bapak bapak langsung mengurusi jenazah nenek itu. Malam terasa ikut berduka atas kepergian nenek Widya. Angin berhembus dengan tenang. Suasana malam itu terasa begitu sunyi.
Rumah Widya semakin banyak kedatangan orang malam itu. Rasa empatipun terus mengalir dari warga desa Baleagung lantaran selama ini keluarga Widya terkenal begitu baik di mata para tetangganya. Keesokan harinya jenazah nenek Widya dimakamkan. Wajah Widya masih tampak begitu sedih oleh karena nenek satu satunya telah pergi untuk selama lamanya.
Setelah nenek tiada Widya akhirya memutuskan untuk tinggal bersama pamannya. Satu satunya keluarga yang masih ada. Ia tinggal di Surabaya. Widya melalui hidupnya dengan selalu berdoa untuk orang tuanya serta nenek tercintanya.
§§§
Kini setelah tujuh tahun berlaalu Petuah dan nasehat si nenek tidak bisa lepas dari kehidupan Widya. Si nenek selalu mengajarkan kesederhanaan, cinta kepada sesama, ulet, gigih dan pantang menyerah. Prinsip itulah yang selama ini dipegang Widya sampai duduk di semester delapan fakultas kedokteran UNAIR. Nampaknya doa dan keinginan neneknya terkabul. Kecerdasannya mengantarkan Widya selalu memperoleh beasiswa setiap semesternya. Kini Widya hampir mejadi seorang dokter. Ia akan purna study bulan depan. Satu hal yang selalu dirindukan oleh Widya adalah seandainya kedua orang tua serta nenek tercintanya bisa berada disamping Widya dan menyaksikan cucunya tersenyum mengenakan toga, alangkah bahagianya hati ini. Itulah keinginan Widya yang selalu terbesit dalam hatinya, walaupun ia menyadari kenyataan itu jelas tidak mungkin. Ia kini ingin melaksanakan janji kepada neneknya dulu kalau kelak menjadi seorang dokter maka akan ia abdikan hidupnya untuk kemanusiaan sebagai sarana ibadah kepada Nya.
Itulah pelangi sejati dari pulau dewata. Kehidupan seringkali seperti pelangi. Warna warni yang penuh variasi antara senang, sedih, canda dan tawa, bahagia serta duka selalu datang silih berganti. Tapi itulah variasi hidup. Bukankah keindahan pelangi akan sirna kalau hanya terdiri dari satu warna ?.

§§§

Penulis adalah cerpenis, tinggal di Kebumen

MENYIAPKAN GENERASI “ BEBAS ” ROKOK

MENYIAPKAN GENERASI “ BEBAS ” ROKOK
Oleh : Ma’muri Santoso
Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III beberapa hari yang lalu (26/1) di Padang Panjang Sumatera Barat telah menghasilkan fatwa, salah satunya adalah “melarang” merokok atau lebih tepatnya haram namun tidak mutlak. Tingkat keharamannya tidak berlaku umum melainkan pada kondisi dan situasi tertentu yaitu haram bagi anak-anak, wanita hamil dan bagi yang melakukannya di tempat umum.
Di tengah pro dan kontra tentang status hukum merokok selama ini, kiranya keluarnya fatwa tersebut dapat menjembatani berbagai pihak yang selama ini mengharamkan maupun pihak yang menghukuminya sebagai makruh saja. Tidak hanya itu, apa yang diputuskan dalam pertemuan dua tahunan tersebut juga dapat menjadi solusi sekaligus sumbangsih bagi pembangunan bangsa ini untuk benar benar menyiapkan generasi yang sehat dan kuat, baik secara jasmani maupun rohani. Di tengah keperihatinan banyak pihak atas bahaya merokok, kiranya fatwa MUI ini sudah berada pada jalur yang tepat. Fatwa sebagai sebagai sebuah pendapat bersama (himbauan) tentu tidak akan dapat memuaskan semua pihak, namun demikian ada alasan logis mengapa kita mesti menyikapi keputusan tersebut secara arif.
Bagaimanapun fatwa sebagai produk hukum tentu tidak berdiri sendiri. Artinya ia lahir karena ada sebab musababnya. Dalam hal ini yang melatar belakangi adalah keresahan banyak pihak atas bahaya merokok, lebih-lebih fenomena yang melanda kalangan anak-anak dan remaja yang kian begitu akrab dengan rokok ini.
Menurut hasil survey Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan menyebutkan 13,62 persen perokok di Indonesia mulai merokok sejak usia tujuh tahun. Dengan jumlah perokok aktif, berdasarkan survey Departemen Kesehatan, sekitar 141,44 juta jiwa, artinya terdapat sekitar 1,92 juta anak usia tujuh hingga 18 tahun yang menjadi perokok. Adapun menurut Global Youth Tobacco Survey 2007, jumlah perokok usia 13 – 18 tahun di Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia.
Hal ini diperparah dengan tingginya angka kematian akibat merokok. Menurut WHO, tahun 2008 diperkirakan 5,4 juta orang meninggal pertahunnya karena rokok. Di Indonesia sendiri menurut laporan Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Kesehatan Masyarakat (TCSC-IAKMI) diperkirakan 427.948 kematian pertahunnya atau dalam sehari ada sekitar 1.172 orang meninggal karena rokok. Sedangkan Organisasi Paru Paru Dunia (World Lung Foundation/ WLF) melansir pada tahun 2030 nanti angka kematian akibat merokok akan sangat signifikan, yakni dapat mencapai 10 juta orang.
Ada beberapa faktor mengapa angka perokok aktif usia anak dan remaja begitu tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Universitas Andalas, motivasi anak merokok di usia dini disebabkan karena coba-coba, pengaruh teman, teladan orang tua dan ingin terlihat lebih gagah. Hal ini karena dipengaruhi iklan rokok di televisi yang menonjolkan kejantanan dan kegagahan.
Fakta di atas tentu cukup memperihatinkan di tengah upaya getol berbagai pihak untuk menyiapkan generasi yang sehat dan berkualitas. Satu tantangan yang membutuhkan partisipasi banyak pihak untuk bahu membahu mencari solusi agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin parah terhadap keberlangsungan generasi kita di masa yang akan datang. Fatwa diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengurangi angka tersebut secara drastis, meskipun tidak bisa menghilangkan secara total. Namun demikian, realitas di lapangan, aplikasi fatwa tidak harus diterjemahkan secara kaku, melainkan perlu disampaikan dengan tetap mengedepankan unsur ta’dib (mendidik), pendekatan yang tepat dan santun terhadap kalangan anak dan remaja pecandu rokok. Dengan cara itu diharapkan mereka tidak langsung menolak secara mentah-mentah terhadap produk fatwa tersebut.
Pendekatan secara psikologi akan sangat relevan untuk seusia mereka sehingga larangan tidak berlaku secara sporadis dengan berdalih kata-kata “haram”. Upaya untuk membangkitkan kesadaran akan bahaya merokok ialah dengan memberikan pemahaman yang utuh kepada anak atas bahaya dan dampak negatif yang ditimbulkan dari merokok. Di samping itu juga sangat perlu akan sosialisasi secara berkelanjutan terhadap efek buruk yang ditimbulkan karena faktor merokok, dari mulai gangguan kesehatan, cacat organ tubuh hingga pada tahap yang sangat membahayakan yakni dapat berujung pada kematian.
Untuk membangkitkan kesadaran, di sekolah-sekolah juga dapat ditempuh cara yang lebih kontekstual. Tidak sebatas memberikan arahan dan nasehat akan bahaya merokok, melainkan dapat menggunakan banyak media, mulai dari memasang gambar tentang bahaya merokok, memutar CD bahaya rokok sampai pada mendatangi penderita penyakit yang diakibatkan oleh kasus merokok. Dengan cara ini maka anak anak dan remaja yang masih pada tahap labil dalam berfikir akan lebih bisa mencerna suatu pesan penting jika dibandingkan dengan sekedar memberikan nasehat maupun hukuman agar anak jera terhadap rokok.
Cara yang tidak kalah penting ialah dengan mengubah cara berfikir yang salah atas persepsi merokok selama ini yang dikaitkan dengan faktor kejantanan. Tidak ada korelasi antara merokok dengan tingkat kejantanan atau kegagahan seseorang. Bagi anak anak dan remaja, merokok tidak lebih dari sekedar perilaku yang mengganggu kesehatan serta merupakan tindak pemborosan belaka. Bisa dibayangkan ada berapa ratus ribu yang keluar dari kocek orang tua apabila puntung rokok sudah akrab dalam keseharian anak. Bukankah akan lebih positif jika kegagahan bagi mereka dimaknai dengan capaian prestasi, unjuk kebolehan, baik dalam hal akademik maupun yang berkaitan dengan kecakapan hidup seperti olahraga, seni, keterampilan maupun potensi bakat lainnya. Generasi bangsa yang kuat dan berkualitas sangat ditentukan oleh adanya pola hidup yang sehat. Dan salah satunya adalah dengan menghindari kebiasaan merokok.
Ma’muri Santoso
Kepala MTs PSA Mamba’ul Hisan Mirit Kebumen